contoh skripsi

I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah

Penyakit Avian Influenza adalah salah satu penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit Avian Influenza ini sudah mewabah di beberapa negara di Asia termasuk Indonesia dan telah menimbulkan kegelisahan masyarakat. Hampir semua jenis unggas dapat terinfeksi virus ganas ini, seperti ayam, itik, kalkun, puyuh dan bahkan dapat menginfeksi ternak ruminansia terutama babi. Akibat dari penyakit Avian Influenza ini dapat membawa kerugian besar bagi peternak maupun masyarakat luas (Soedjodono dkk, 2006).
Avian Influenza adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Wabah akibat dari virus ini ditemukan pertama kali di Italia pada tahun 1878, pada tahun 1924-1925 virus ini mewabah di Amerika Serikat (Anggadha dkk, 2007).
Upaya pemerintah Indonesia berkaitan dengan penanggulangan penyakit Avian Influenza adalah dengan diluncurkannya 9 strategi nasional untuk mananggulangi penyebaran penyakit Avian Influenza ini. Pada dasarnya tingkat kasus Avian Influenza pada ternak ayam di Indonesia tidak lepas dari sistem pemeliharaan ternak yang diterapkan tidak memenuhi ketentuan sistem pemeliharaan yang direkomendasikan oleh instansi terkait. Kalau kita perhatikan terutama peternakan rakyat misalnya sistem sanitasi kandang, penggunaan desinfeksi, pemberian vaksin secara tepat dan teratur, serta penerapan biosekuriti hampir tidak ada.
Data dari Dinas peternakan Propinsi JawaTimur, khususnya Kabupaten Mojokerto kasus Avian Influenza pada unggas mulai ditemukan pada tahun 2002 pada bulan Agustus yang tersebar di beberapa Kecamatan, secara kumulatif jumlah kematian ternak ayam akibat kasus Avian Influenza di Kabupeten Mojokerto pada tahun 2002 yaitu sebanyak 1.123.732 ekor, yang meliputi Katobu (55.105 ekor), Bata Laiworu (8.454 ekor), Watopute (26.646 ekor), Kontunaga (79.348 ekor), Lohia (900 ekor), Duruka (54.179 ekor). Berdasarkan data tersebut tampak bahwa untuk Kecamatan Bata Laiworu hanya terdapat 8.454 ekor unggas yang sudah terinfeksi virus Avian Influenza, tetapi ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus, walaupun wilayah Kecamatan Katobu memiliki kasus yang masih sedikit dibandingkan kecamatan lain yang sudah terinfeksi Avian Influenza. (Anonim, 2006a).

Penularan penyakit Avian Influenza ini tidak terlepas dari segala aktivitas para peternak itu sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh sejauh mana pengetahuan peternak mengenai bagaimana cara melakukan aktivitas ternak yang baik sehingga nantinya tidak menimbulkan permasalahan kesehatan baik pada ternak maupun pada manusia
Bertolak dari latar belakang tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, sikap dan tindakan peternak unggas terhadap penyakit Avian Influenza di Kabupaten Mojokerto, khususnya Kecamatan Bata Laiworu, dimana dengan adanya data-data tersebut diharapkan akan membantu pihak yang terkait dalam pelaksanaan upaya-upaya pencegahan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah : Bagaimana pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat peternak unggas terhadap kejadian penyakit Avian Influenza di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokerto?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat peternak unggas tentang penyakit Avian Influenza di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokerto.

1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi dunia kesehatan khususnya bagi instansi Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular khususnya penyakit Avian Influenza.
2. Manfaat Teknis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau sebagian bahan kajian pustaka bagi peneliti selanjutnya.




II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum tentang penyakit Avian Influenza
2.1.1. Definisi Penyakit Avian Influenza
Avian Influenza adalah suatu penyakit menular yang digolongkan dalam zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit Avian Influenza ini dikhawatirkan dapat menular juga dari manusia ke manusia. Avian Influenza juga merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia (Anonim, 2006b).
Avian Influenza adalah penyakit pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza tipe A, yang merupakan keluarga Orthomyxoviridae. Virus influenza ini dibedakan atas 3 tipe yakni virus influenza tipe A yang biasa menular ke unggas, sedangkan tipe B dan C adalah virus yang umum menyebabkan influenza pada manusia (Anonim, 2006a).

2.1.2. Etiologi
Penyakit Avian Influenza disebabkan oleh virus influenza tipe A dengan diameter 90-120 nanometer. Virus tersebut termasuk dalam keluarga orthomyxoviridae. Secara mormal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas. Namun dapat juga menginfeksi ternak ruminansia, terutama babi (Soejoedono dkk, 2005).
Berdasarkan tipe virusnya, virus influenza terbagi atas 3 tipe yakni tipe A, B dan C pada permukaan virus tipe A, ada 2 glikoprotein, yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Untuk mengklasifikasikan secara rinci, masing-masing tipe virus tersebut dibagi menjadi subtype berdasar kelompok hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). klasifikasinya adalah H1-H15, dan N1-N9 (Aditama, 2004).







Gambar 1. Mikrograf Virus Avian Influenza

Influenza pada manusia sejauh ini disebabkan oleh virus H1N1, H2N2, H3N2, serta virus avian H5N1, H9N2, dan H7N7. dan kasus penyakit Avian Influenza yang hangat dibicarakan saat ini adalah virus influenza tipe A subtype H5N1. Dalam virus tipe A mempunyai 15 hemaglutinin dan 9 neuraminidase. Jika keduanya dikombinasikan maka terdapat 135 kemungkinan subtype virus yang bisa muncul. Beberapa jenis subtype (strain) yang sudah dikenal antara lain H1N1, H1N2, H2N2, H3N3,H5N1,H7N7 dan H9N1.
Adapun sifat virus ini yaitu dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22oC dan lebih 30 hari pada 0oC. inilah yang menyebabkan wabah virus Avian Influenza banyak merebak dimusim dingin atau musim hujan yang udaranya relatif lebih dingin. Sementara itu, pada bahan organik, virus akan hidup lebih lama begitu juga dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas sakit. Virus ini akan mati dalam pemanasan 60oC selama 30 menit atau 56oC selama 3 jam (Rahardjo, 2004).

2.1.3. Gejala Penyakit
Gejala penyakit Avian Influenza dapat dibedakan menjadi dua yakni pada unggas dan manusia (Anonim, 2004)
1. Pada unggas
Virus Avian Influenza yang awalnya hanya ditemukan pada burung-burung liar kini telah menjangkit hewan ternak, terutama unggas bahkan mampu menginfeksi ternak, misalnya babi. Unggas yang terkena penyakit Avian Influenza akan menunjukan gejala lengkap, mulai pernapasan, kemampuan produksi ayam, pencernaan dan saraf.
Avian Influenza pada unggas sering dikelirukan dengan penyakit ND (Newcatle Disease) karena gejalanya sangat mirip. Karakteristik Avian Influenza mirip dengan ND tingkatan terganas, yaitu ND Velogenik. Perbedaan akan terlihat setelah dilakukan pembedahan bangkai dan pemeriksaan darah atau DNA. (Soejoedono dkk, 2006)
Penyakit Avian Influenza memiliki sifat imunosupresif karena menyebabkan penurunan daya tahan tubuh yang sangat cepat. Selain itu virus ini memiliki karakter sistematik sehingga prosesnya diawali dengan merusak semua sistem organ dalam, termasuk lymfoid, seperti bursa fabricius dan thymus. Dengan rusaknya organ ini maka akan terjadi penurunan kekebalan pada tubuh. Rusaknya sistem dalam tubuh menyebabkan semua metabolisme tidak sempurna sehingga produksi antibodi juga tidak maksimal. Dalam kondisi ini kemampuan untuk menahan serangan virus juga tidak optimal (Anonim, 2006d)
Gejala pada unggas yang sakit cukup bervariasi, mulai dari gejala ringan (nyaris tanpa gejala), sampai gejala yang sangat berat. Hal ini tergantung dari keganasan virus, lingkungan, dan keadaan unggas itu sendiri.
Adapun gejala-gejala klinis ternak unggas yang terinfeksi Avian Influenza yaitu (Aditama, 2004) :
1. Jengger berwarna biru
2. Kepala bengkak
3. Sekitar mata bengkak
4. Demam
5. Diare
6. Penurunan produksi telur
7. Tidak nafsu makan
8. Terjadi gangguan pernapasan (batuk dan bersin)
9. Kematian mendadak
10. Gangguan sistem saraf (depresi)
Sejumlah subtype virus Avian Influenza dapat menimbulkan penyakit parah pada spesies unggas tertentu, tetapi pada spesies unggas lain tidak menimbulkan penyakit tertentu atau penyakit timbul bersifat sangat ringan. Morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) bervariasi tergantung pada spesies unggas, virus, umur, lingkungan, ventilasi dan adanya infeksi sekunder. Morbiditas bisa sangat tinggi, tapi mortalitasnya rendah. Pada kasus Avian Influenza sangat patogenik, morbiditas dan mortabilitas dapat mencapai 100%. Mortalitas biasanya meningkat antara 10-50 kali dari hari sebelumnya dan mencapai puncak pada hari ke-6 sampai ke-7 setelah timbul gejala. (Siegel, 2006)
2. Pada manusia
Gejala Avian Influenza pada dasarnya adalah sama dengan flu biasa lainnya, hanya saja cenderung lebih sering dengan cepat menjadi parah. Virus Influenza biasanya menimbulkan penyakit ringan hanya sebagian kecil yang menimbulkan infeksi pernapasan kronik yang di ikuti infeksi sistemik. Virus Avian Influenza diduga salah satu yang termasuk dalam bagian kecil yang dapat menyebabkan kematian dalam satu minggu. Oleh karena itu, orang yang terjangkit flu perlu segera ditangani. (Soejoedono dkk, 2006).
Adapun gejala-gejala penyakit Avian Influenza pada manusia, yaitu (Aditama, 2004) :
1. Demam sekitar 39oC
2. Batuk
3. Lemas
4. Sakit tenggorokan
5. Sakit kepala
6. Muntah
7. Nyeri perut
8. Nyeri sendi
9. Infeksi selaput mata (conjunctivitis)
Setelah mengenal gejala maka biasanya akan dicari informasi mendalam tentang faktor resiko yang ada, misalnya apakah yang bersangkutan bekerja di peternakan, atau habis berkunjung ke pasar ayam dan lain-lain. Selain itu juga perlu diketahui juga penyakit-penyakit lain yang mungkin akan memperburuk keadaan seperti adanya penyakit paru dan jantung setelah itu akan dilakukan pemerikasaan fisik untuk melihat langsung keadaan pasien dan dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dan rontgen dada.

2.1.4. Cara penularan
Penyakit Avian Influenza dapat menular dari unggas ke unggas dan dari unggas ke manusia bahkan dikhawatirkan akan terjadi penularan dari manusia ke manusia.
1. Penularan antar ternak unggas
Seekor unggas yang terinfeksi virus H5N1 akan menularkan dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi jika semua unggas peliharaan dalam kondisi prima dan memilki daya tahan tubuh yang kuat maka infeksi tidak akan menyebabkan kematian. Sebaliknya jika kondisi unggas berada dalam kondisi buruk maka virus Avian Influenza dapat mematikan.
Penularan virus dalam satu kandang terjadi karena virus dikeluarkan lewat kotoran lendir yang keluar dari mata dan hidung. Penempelan kotoran pada peralatan ternak, seperti tempat pakan, minum, dan rak telur serta dinding kandang juga dapat mengeluarkan virus.
Selain hal diatas, kondisi sanitasi yang kurang baik dapat menyebabkan kebersihan kandang kurang steril. Lendir yang keluar dari hidung dan mata dapat menetasi tempat pakan dan minum. Saat tempat minum digunakan untuk minum ayam lain atau ternak babi maka ada kemungkinan penularan virus (Anonim, 2005a).
Dari uraian diatas, penyakit Avian Influenza dapat ditularkan dari unggas ke unggas lainnya dengan cara sebagai berikut (Anonim, 2006c):
1. Kontak langsung dari unggas terinfeksi dengan hewan yang peka.
2. Melalui lendir yang berasal dari hidung dan mata.
3. Melalui kotoran (feses) unggas yang terserang Avian Influenza.
4. Lewat manusia melalui sepatu dan pakaian yang terkontaminasi dengan virus.
5. Melalui pakan, air, dan peralatan kandang yang terkontaminasi.
6. Melalui udara karena memiliki peran penting dalam penularan dalam suatu kandang, tetapi memilki peran terbatas dalam penularan antar kandang.
7. Melalui unggas air yang dapat berperan sebagai sumber (Reservoir) virus dari dalam saluran intestinal dan dilepaskan lewat kotoran.

2. Penularan dari ternak ke manusia
Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan berbagai jenis unggas terinfeksi maupun tidak langsung. Maksudnya selain karena menyentuh unggas, ayam, burung, dan sebagainya secara langsung, penularan dapat terjadi melalui kendaraan yang mengangkut binatang di kandangnya dan alat-alat peternakan (melalui pakan ternak). Penularan juga dapat terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu pada peternak yang langsung menangani unggas yang sakit, dan pada saat jual beli ayam hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain (Rahardjo, 2004).
Penularan dari unggas ke manusia, pada dasarnya berasal dari unggas sakit yang masih hidup dan menular. Unggas yang sudah di masak tidak akan menularkan Avian Influenza ke manusia sebab virus itu akan mati dengan pemanasan 80oC lebih dari 1 menit. Semakin meningkat suhu akan semakin cepat mematikan virus.Telur-telur yang cangkangnya terdapat kotoran kering perlu diwaspadai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kotoran yang menempel pada telur-telur tadi berasal dari kotoran unggas yang terjangkit Avian Influenza. Disarankan juga untuk mengkonsumsi telur yang telah matang (Anonim, 2006a)
3. Penularan antara manusia
Sampai saat ini penularan virus Avian Influenza antar manusia kecil kemungkinannya, tetapi perlu diwaspadai. Hal ini dikarenakan virus cepat bermutasi dan beradaptasi dengan manusia sehingga kemungkinannya adanya virus baru dari Avian Influenza. Apabila sudah terjadi interaksi antara virus influenza pada unggas dan pada manusia maka akan terbentuk virus yang lebih ganas dan mematikan (Anonim, 2004)

2.1.5. Masa inkubasi
Masa inkubasi pada unggas selama 1 minggu sedangkan pada manusia 1-3 hari, masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari (Anonim, 2006d)

2.1.6. Diagnosis
Anonom 2006d menyatakan Departemen kesehatan RI membagi diagnosis Avian Influenza pada manusia menjadi tiga yaitu :
1. Kasus suspec Avian Influenza yaitu seseorang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan gejala demam (suhu >38oC), batuk dan atau sakit tenggorokan dengan salah satu keadaan :
a. Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang terjadi KLB flu burung
b. Kontak dengan kasus konfirmasi Avian Influenza dalam masa penularan
c. Bekerja pada suatu laboratorium yang memproses spesimen manusia atau hewan yang dicurigai menderita Avian Influenza.
2. Kasus probable yaitu kasus suspek disertai salah satu keadaan :
a. Bukti laboratorium terbatas yang mengarah ke virus influenza A H5N1, misalnya tes yang menggunakan antigen H5H1.
b. Dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonia/gagal
c. Terbukti tidak ada penyebab lain.
3. Kasus konfirmasi atau kasus sudah pasti, yang defenisinya adalah kasus yang :
a. Hasil kultur virus influenza H5N1 (+)
b. Hasil PCR (polymerase Chain Reaction) influenza H5 (+)
c. Terjadi peningkatan titer antibody h5 sebesar 4 kali

2.1.7. Pencegahan
a. Pada hewan ternak
Beberapa langkah yang ditempuh dalam pencegahan Avian Influenza pada hewan ternak antara lain :
1. Biosekuriti
Stretegi utama yang harus dilaksanakan adalah meningkatkan biosekuriti. Tindakan karantina atau isolasi harus diberlakukan terhadap peternakan yang tertular. Kondisi sanitasi di kandang-kandang, lingkungan kandang, maupun para pekerja harus sehat.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam usaha ini antara lain sebagai berikut :
a. Membatasi secara ketat lalu lintas unggas atau ternak, produk unggas, pakan kotoran, bulu dan alas kandang.
b. Peternak dan orang yang hendak memasuki peternakan ayam atau unggas harus menggunakan pakaian pelindung seperti masker, kaca mata plastik, kaos tangan, dan sepatu.
c. Mencegah kontak antar unggas dengan burung liar atau burung air, tikus, dan hewan lain.
d. Melakukan densifeksi terhadap semua bahan, sarana, dan prasarana peternakan, termasuk bangunan kandang.
e. Menggunakan jenis densifektan yang sudah direkomendasikan seperti asam perasetat, hidroksi peroksida, sediaan amonium kuartner, formaldehid, kalium hiperklorit (Anonim, 2006a)
2. Depopulasi
Depopulasi adalah tindakan pemusnahan unggas secara selektif di peternakan yang tertular virus Avian Influenza. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas.
Cara pemusnahan unggas yang terinfeksi virus Avian Influenza adalah menyembelih semua unggas yang sakit dan unggas sehat dalam satu kandang (peternakan). Dapat juga dilakukan dengan cara disposal yaitu membakar dan mengubur unggas yang mati, sekam dan pakan yang tercemar, serta bahan peralatan yang terkontaminasi.
Pada dasarnya, jika timbul kasus Avian Influenza di suatu daerah dan telah didiagnosa secara klinis, patologi anatomis, dan epidemiologis serta dikonfirmasi secara laboratories maka harus dilakukan pemusnahan secara menyeluruh, yaitu memusnahkan seluruh ternak yang sakit maupun sehat pada peternakan tertular dan juga tehadap semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari peternakan tertular tersebut. Untuk pengisian kembali (restoking) unggas ke dalam kandang dapat dilakukan paling cepat 1 bulan setelah dilakukan pengosongan kandang dan telah selesai dilaksanakan semua tindakan dekontaminasi dan disposal sesuai prosedur .
3. Vaksinasi
Program vaksinasi merupakan tindakan kedua yang dipilih oleh indonesia dalam penanggulangan Avian Influenza. Vaksinasi dilakukan pada semua jenis unggas sehat, terutama di daerah yang telah diiketahui ada virus Avian Influenza Ini dilakukan untuk memberikan kekebalan pada ayam supaya tidak mudah terinfeksi virus dan tidak mudah tertular.
Vaksin yang digunakan harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan menurut peraturan perundangan yang berlaku. Kemudian vaksin yang digunakan dan boleh diedarkan adalah vaksin yang mendapat nomor registrasi Departemen Pertanian.
Vaksin yang digunakan adalah vaksin in aktif (killed vaccine). Adapun program vaksinasi pada unggas adalah: Untuk ayam petelur umur 4-7 hari 0,2 ml dibawah kulit pada pangkal leher, Umur 4-7 minggu 0,5 ml dibawah kulit pada pangkal leher, Umur 12 minggu 0,5 ml di bawah kulit pada pangkal leher atau pada otot dada, Setiap 3-4 bulan diulang 0,5 ml pada otot dada. Untuk ayam pedaging Pemberian vaksin dilakukan pada umur 4-7 hari dengan dosis 0,2 ml di bawah kulit pada pangkal leher dan untuk unggas lain program vaksinasi disesuaikan dengan petunjuk yang tercantum pada etiket masing-masing produsen (Anonim, 2005b).
4. Sosialisasi
Sosialisasi tentang penyakit Avian Influenza dilakukan dengan penyuluhan ke peternakan dan masyarakat di masing-masing daerah. Agar warga disekitar lokasi peternakan mengerti dan paham akan bahaya Avian Influenza. Dengan demikian, masyarakat akan menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya. Pengertian masyarakat akan bahaya virus Avian Influenza diharapkan membuat tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi Avian Influenza (Anonim, 2005b).
5. Surveilans dan Penelusuran
Surveilans adalah suatu penelitian cermat terhadap berbagai aspek kejadian dan penyebaran penyakit yang ditujukan pada upaya pengendalian penyakit secara efektif. Ditjen Peternakan (2006) menambahkan, termasuk dalam kegiatan ini adalah pengumpulan dan evaluasi data tentang :
a. Laporan morbiditas dan mortalitas.
b. Laporan penyidikan lapangan atas kejadian wabah ataupun kejadian kasus secara individual.
c. Isolasi dan Identifikasi agen infeksi oleh laboratorium.
d. Evektivitas vaksinasi dalam populasi.
e. Data lain untuk kajian epidemiologi.
6. Pengendalian lalu lintas
Upaya pemantauan lalu lintas unggas juga merupakan hal penting untuk dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya bibit endemik dari luar daerah. Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati kondisi fisik, kesehatan hewan serta melakukan uji laboratorium sampel darah unggas terhadap kemungkinan Avian Influenza. Dalam kondisi wabah, maka pengendalian dibagi dalam beberapa zona (wilayah), yakni :
1. Daerah tertular : daerah yang sudah dinyatakan ada kasus secara klinis dan hasil uji laboratorium.
2. Daerah terancam : daerah yang berbatasan langsung dengan daerah tertular atau tidak memiliki batasan alam dengan daerah tertular.
3. Daerah bebas : daerah yang dinyatakan masih belum ada kasus secara klinis maupun secara uji laboratorium, atau memiliki batas alam pulau (Anonim, 2004)
7. Re-Stocking (pengisian kembali unggas)
Kandang dikosongkan selama 30 hari setelah kasus terakhir dan disemprot desinfektan seminggu 2 kali (Anonim, 2007).
8. Stamping Out (pemusnahan unggas secara menyeluruh)
Pada daerah bebas/terancam apabila timbul kasus Avian Influenza dan telah di diagnosa secara klinis, patologi anatomis dan epidemiologi serta dikonfirmasi secara laboratories, maka dilakukan tindakan pemusnahan secara menyeluruh (stamping out) yaitu memusnahkan seluruh ternak unggas yang sakit maupun yang sehat pada peternakan tertular dan juga terhadap semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari peternakan tertular tersebut (Anonim, 2004).
9. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring kelapangan sampai tingkat desa dilaksanakan 1 bulan 1 kali, sedangkan evaluasi dilakukan dalam 3 bulan sekali (Anonim, 2006a)

b. Pada manusia
Anonim, 2006d menyatakan Secara umum cara pencegahan terkena flu tentunya tetap menjaga daya tahan tubuh, makan yang seimbang dan bergizi, istrahat teratur dan olahraga teratur. Sementara itu, sampai sekarang belum ada vaksin untuk menangkal virus Avian Influenza pada manusia.
Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu (Anonim, 2006d)
1. Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang).
a. Mencuci tangan dengan densifektan dan mandi sehabis bekerja.
b. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi Avian Influenza.
c. Menggunakan alat pelindung diri, misalnya masker dan pakaian kerja.
d. Menggunakan pakaian kerja di tempat kerja.
e. Membesihkan kotoran unggas setiap hari.
2. Masyarakat Umum
a. Menjaga daya tahan tubuh dengan makanan seimbang dan bergizi, istirahat yang cukup dan menjaga kebersihan.
b. Bila ada keluhan gangguan pernapasan dalam beberapa hari agar segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan terdekat.
c. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya) dan memasak daging ayam sampai suhu 80 oC selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu 64oC selama 4,5 menit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tahun 2005 menyatakan, secara umum prinsip-prinsip kerja yang higienis, seperti :
a. Mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri. Ini merupakan upaya yang harus dilakukan oleh mereka yang kontak dengan binatang, baik dalam keadaan mati, apalagi ketika hidup.
b. Karena telur juga dapat tertular, maka penanganan kulit telur mentah perlu dapat perhatian
c. Daging unggas harus dimasak sampai suhu 70oC atau 80oC selama sedikitnya satu menit.
d. Pola hidup sehat, dalam hal ini adalah makanan yang bergizi dan seimbang, istirahat yang cukup, olahraga teratur.
Langkah-langkah lain yang yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan virus Avian Influenza, yaitu :
a. Menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah setiap hari.
b. Berantas lalat dengan obat anti lalat.
c. Jauhi kontak langsung dengan ayam, bebek, dan hewan unggas lainnya.
d. Ajari anak-anak agar :
1. Tidak menyentuh burung meski hanya bulu-bulunya.
2. Untuk sementara jangan memelihara hewan dirumah.
3. Segera mencuci tangan dengan sabun selesai berdekatan atau menyentuh hewan peliharaan atau hewan ternak.
4. Jangan tidur berdekatan dengan kandang unggas.
e. Jika secara tidak sengaja anda berada di wilayah yang terserang virus Avian Influenza bahkan menyentuh hewan unggas atau berjalan di tanah yang mengandung kotoran hewan, segeralah cuci dengan sabun.
f. Jika memelihara unggas atau burung dalam rumah, sebaiknya cermati kesehatannya. Jika ada unggas yang mati, segera bakar dan kuburkan, agar tidak menimbulkan debu sewaktu menggali tanah, basahi dulu tanah tempat penguburan hewan. Setelah mengubur hewan, langsung bersihkan daerah di sekitarnya.
g. Bagi siapapun yang mempunyai gejala atau demam, sebaiknya segera memakai masker pada saat bersin atau batuk
h. Sesudah memotong dan mempersiapkan ayam atau unggas untuk di masak, segeralah mencuci tangan dengan sabun.
i. Telur sebelum di masak perlu dicuci terlebih dahulu dengan sabun.

2.1.8. Pengobatan
Sampai saat ini penyakit Avian Influenza belum ada obatnya. Penderita hanya akan diberikan obat untuk meredakan gejala yang menyertai penyakit Avian Influenza tersebut, seperti demam, batuk atau pusing. Pasien juga harus mendapat terapi suportif, makanan yang bergizi, bila perlu di infus dan istirahat yang cukup, bila terdapat sesak napas dapat dilakukan oksigenasi.
Selain itu dapat pula diberikan obat anti virus. Ada 2 jenis yang tersedia, yaitu kelompok M2 inhibitors, (amantadine dan rimantadine) serta kelompok neuramidinase inhibitors (oseltamivir dan zanimivir). Amantadine atau rimantadine diberikan pada awal penyakit, 48 jam pertama, selama 3-5 hari, dengan dosis 5 mg/kg berat badan pasien/hari dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg/hari. Sementara oseltamivir diberikan 75 mg, satu kali sehari selama 7 hari (Anonim, 2006a)

2.2. Tinjauan Umum Tentang Perilaku
Perilaku manusia (individu), pada dasarnya merupakan fungsi interaksi antara manusia dengan lingkungan. Interaksi ini melibatkan kepribadian manusia yang kompleks dengan lingkungan yang memilki tatanan tertentu. Perbedaan-perbedaan kepribadian manusia dari lingkungan yang dihadapinya menimbulkan perilaku manusia (individu) berbeda-beda.
Perilaku merupakan hasil perpaduan dari faktor intern atau yang ada dalam diri individu yaitu keturunan dan motif (dorongan kebutuhan) dan faktor ekstern yang meliputi pengetahuan tentang apa yang ingin dilakukan, keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran, dan sarana yang diperlukan untuk melakukannya .
Perilaku adalah suatu pengorganisasian proses-proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untuk melakukan respon menurut cara tertentu terhadap suatu objek.
Bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokan menjadi 3 jenis :
a. Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar.
b. Perilaku dalam bentuk sikap, yakni tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri si subyek sehingga alam itu sendiri akan mencetak perilaku manusia yang hidup di dalamnya sesuai dengan sifat dan keadaan alat tersebut (lingkungan fisik). Lingkungan yang kedua adalah sosio-budaya yang bersifat non fisik tetapi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembentukan perilaku manusia. Ini adalah merupakan keadaan berupa masyarakat dan segala budidaya masyarakat dimana manusia itu lahir dan mengembangkan perilakunya.
c. Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, berupa perbuatan (action) terhadap situasi atau rangsangan dari luar.
Namun secara lebih operasional perilaku dapat diartikan sebagai suatu respon organisme (seseorang) terhadap rangsangan (stimulasi) dari luar subyek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam yakni bentuk pasif atau respon internal yang terjadi dlam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat dari orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap dan pengetahuan. Dan bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas bisa dapat di observasi secara langsung (Notoatmodjo, 1993).
Menurut WHO (1998) menyebutkan adanya 4 penyebab manusia melakukan sesuatu, yakni :
1. Pikiran dan perasaan yang dibentuk dengan pengetahuan, keyakinan, sikap dan nilai.
2. Pengetahuan yang datang dari pengalaman-pengalaman yang tepat, diperoleh melalui informasi yang diberikan oleh guru, orangtua, kelompok sebaya, buku dan media masa.
3. Keyakinan yang diturunkan dari orang tua, kakak atau dari orang yang dihormati, manusia menerima keyakinan tanpa membuktikan hal tersebut benar atau salah.
4. Sikap yang merefleksikan kesukaan dan ketidaksukaan serta dapat datang dari pengalaman, kadang-kadang situasi dapat menyebabkan sseorang bertindak tidak sesuai dengan sikapnya, walaupun dalam hal ini sikapnya juga tidak berubah.

2.3. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentknya tindakan seseorang. Dari beberapa penelitian mengatakan bahwa ternyata perilaku tidak terlepas dari pengetahauan, sikap dan tindakan. Olehnya itu pengetahuan peternak dalam kaitannya dengan penyebaran penyakit Avian Influenza sangat penting untuk melihat sejauh mana peternak dapat mengambil keputusan untuk menghindari dirinya dari kemungkinan terjangkit suatu penyakit (Notoatmodjo, 1993).
Pengetahuan peternak terhadap penyakit Avian Influenza sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan maupun media massa lainnya dan kemampuan untuk menyerap dan menginterprestasikan informasi tersebut. Pengetahuan yang cukup mengenai Avian Influenza akan menyebabkan seseorang mengetahui cara terhindar dari penyakit Avian Influenza sehingga upaya pencegahan ataupun pengobatan akan cepat dilaksanakan.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.
2.4. Tinjauan Umum Tentang Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus atau obyek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.
Sikap senantiasa ada dalam diri namun tidak selalu aktif setiap saat. Sikap merupakan kecenderungan untuk bereaksi secara positif (menerima) ataupun negatif terhadap suatu obyek itu. Sikap seseorang lebih banyak diperoleh melalui proses belajar dibandingkan dengan pembawaan atau hasil perkembangan dan kematangan. Sikap dapat dipelihara atau ditumbuhkan dan dapat pula dirangsang atau diperlemah.
Seperti halnya pengetahuan, sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:
1. Menerima (Receiving)
Orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan obyek.
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar-benar atau salah, adalah berarti menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valuing)
Mangajak orang lain untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap yang berarti bahwa orang (subyek) menerima ide yang ditawarkan.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas sesuatu yang telah dipilih dengan segala resikonya adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Dengan demikian, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak tetapi belum melakukan aktifitas. Pengukuran sikap ini dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu obyek atau dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian dinyatakan pendapat responden. Pengetahuan baru akan memberikan respon batin dalam bentuk sikap terhadap obyek yang diketahui. Sikap ini akan akan berpengaruh pada tindakan untuk meningkatkan derajat kesehatan individu dan masyarakat (Notoatmodjo, 1993).
Setiap orang tentu saja akan memberikan penilaian yang berbeda terhadap suatu masalah, seperti halnya dengan penyakit Avian Influenza yang semakin mengkhawatirkan. Peternakan ayam sebagai kelompok yang rentan untuk terinfeksi penyakit Avian Influenza ternyata memberikan berbagai sikap yang berbeda pula terhadap penyakit Avian Influenza.

2.5. Tinjauan Umum Tentang Tindakan
Secara umum tindakan diketahui adalah respon atau reaksi individu terhadap stimulus baik berasal dari dalam dirinya. Respon atau reaksi individu terhadap stimulus atau rangsangan terdiri dari dua bentuk yaitu :
a. Respon yang berupa tindakan yang dapat dilihat dari luar dan dapat diukur. Ini disebut sebagai perilaku yang tampak (overt behavior).
b. Respon yang merupakan tindakan yang tidak dapat dilihat langsung. Ini disebut sebagai perilaku yang tidak tampak (covert behavior).
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan beberapa faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan.
Tindakan ini memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan-tingkatan tersebut adalah :
1. Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambi ladalah merupakan prakek tingkat pertama.
2. Respon Terpimpin (Guided Response)
Dalam melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar. Ini adalah indikator tingkat kedua.
3. Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu adalah sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.
4. Adaptasi (Adaptation)
Suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Penyebaran Virus Avian Influenza khususnya pada lingkungan ke peternakan dapat dipengaruhi oleh bagaimana tindakan yang diterapkan oleh para peternak dalam melakukan aktivitas ternak sehingga pencegahan terhadap penyakit flu burung dapat dilaksanakan, seperti pemberian vaksinasi, aktivitas pembersihan kandang dan pembatasan terhadap orang-orang yang ingin berkunjung ketempat-tempat peternakan.
Pengukuran tindakan dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, bulan yang lalu (recall). Pengukuran dapat juga dilakukan secara langsung yaitu dengan mengobservasi tindakan atau perbuatan responden (Notoatmodjo, 2003).

2.6. Tinjauan Tentang Peternak Ayam
Peternak ayam adalah mereka yang mempunyai profesi sebagai peternak ayam baik ayam pedaging maupun ayam petelur. Ayam pedaging adalah jenis ayam yang efisien diternakkan untuk diambil dagingnya. Ciri-ciri umum ayam pedaging antara lain bentuk badannya besar, kuat dan penuh daging. Temperamennya lambat dan tenang, kemampuan bertelur rendah, jenis ayam pedaging tertentu memiliki sifat lambat dewasa. Contoh ayam pedaging yang terkenal adalah ayam broiler, keistimewaan ayam pedaging jenis ini adalah usia pemeliharaannya yang singkat untuk dikonsumsi.

2.7. Skala Pengukuran Dan Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kuantitatif peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen, karena penelitian kuantiatif peneliti merupakan kunci instrument. Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti, sehingga jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
1. Skala Likert
Digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analsisi kuantitatif, jawaban itu dapat diberi skor 1 – 3 atau disesuaikan dengan kebutuhan . ( Singarimbun dkk, 1997).

2. Skala Guttman
Skala Guttman yaitu skala yang menginginkan jawaban tegas seperti jawaban benar-salah, ya-tidak, pernah – tidak pernah. Untuk jawaban positif seperti setuju, benar, pernah dan semacamnya diberi skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah, tidak, tidak pernah, dan semacamnya diberi skor 0. ( Singarimbun dkk, 1997).



















III. KERANGKA KONSEP

3.1. Kerangka Konseptual

Penyakit Avian Influenza adalah suatu penyakit menular yang digolongkan dalam zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit Avian Influenza ini dikhawatirkan dapat menular juga dari manusia ke manusia. Penyakit Avian Influenza ini menimbulkan dampak negatif baik bagi kesehatan.
Masyarakat sebagai peternak unggas sebagai kelompok berisiko terkena virus Avian Influenza ini, maka harus mengenali dan memilki pengetahuan, yang akan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya sehingga dapat bersikap dan bertindak tepat terhadap penyakit Avian Influenza ini.
Pada penelitian ini, pengetahuan, sikap dan tindakan peternak unggas, dinyatakan sebagai variabel independen, sedangkan kejadian penyakit Avian Influenza dinyatakan sebagai variabel dependen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini :






















= Variabel Independen

= Variabel Dependen

Gambar 2. Bagan Kerangka Konseptual





IV. METODE PENELITIAN

Waktu dan Lokasi Penelitian

A. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 19 April 2011 sampai dengan tanggal 04 Juli 2010
B. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian adalah di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokerto dengan beberapa pertimbangan :
1. Berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Mojokerto, Bahwa Kabupaten Mojokerto sudah terdapat kasus penyakit Avian Influenza sebanyak 1.123.732. ekor unggas.
2. Peternak Di Kecamatan Bata Laiworu dalam melakukan aktivitas ternak masih kurang memperhatikan tata laksana peternakan yang tepat seperti kandang ternak masih bersatu dengan rumah, tidak memakai alat pelindung diri dan kebersihan kandang kurang diperhatikan.

Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat yang bekerja sebagai peternak unggas di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokero. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Subdin Peternakan Kabupaten Mojokerto, jumlah peternak unggas di Kecamatan Bata Laiworu sebanyak 560 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus, yaitu sebanyak 560 orang dijadikan sebagai objek penelitian.

Metode pengumpulan data

Penelitian ini menggunakan data Primer dan data sekunder
1. Data primer
Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan peternak unggas dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.
2. Data sekunder
Data Sekunder diperoleh dari instansi Pemerintahan yaitu Dinas Pertanian Sub Dinas Peternakan Kabupaten Mojokerto.
4.4. Defenisi Operasional
1. Penyakit Avian Influenza
Penyakit Avian Influenza dalam penelitian ini adalah penyakit menular yang digolongkan dalam zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan menular antar ternak unggas itu sendiri yang disebabkan oleh virus Avian Influenza.
2. Pengetahuan
Pengetahuan dalam penelitian ini adalah pemahaman masyarakat peternak unggas terhadap penyakit Avian Influenza, yaitu meliputi pengertian, gejala baik pada hewan maupun pada manusia, cara penularan, populasi berisiko, pencegahan dan penanggulangan.
Pengetahuan diukur dengan skala Guttman, dengan menggunakan dua kategori yaitu kategori cukup dan kurang. Menggunakan dua kategori supaya perbedaan intensitas antar individu lebih jelas (kasar), dimana jawaban yang tepat diberi skor 1 dan salah diberi skor 0.
Kriteria Objektif :
Cukup : Jika skor yang diperoleh responden denggan menggunakan daftar pertanyaan menunjukkan nilai lebih besar atau sama dengan 60% dari seluruh pertanyaan.
Kurang : Jika hasil wawancara responden dengan menggunakan daftar pertanyaan menunjukan nilai kurang dari 60% dari seluruh pertanyaan (Notoatmodjo, 1993).
3. Sikap
Sikap dalam penelitian ini adalah tanggapan responden terhadap cara penularan dan penanggulangan penyakit Avian Influenza.
Sikap responden diukur berdasarkan skala Likert, dengan menggunakan tiga kategori yaitu kategori setuju, Ragu dan Tidak Setuju. Dimana dalam pernyataan kalimat positif untuk jawaban Setuju (S) diberi skor 3, Ragu (R) diberi skor 2, Tidak Setuju (TS) diberi skor 1, sedangkan untuk pernyataan negatif, pemberian skor dibalik yaitu Setuju (S) diberi skor 1, Ragu (R) diberi skor 2, Tidak Setuju (TS) diberi skor 3.
Kriteria Obyektif :
Positif : Jika skor yang diperoleh responden ≥ 65% dari total skor tertinggi.
Negatif : Jika skor yang diperoleh responden < 65% dari total skor tertinggi. (Notoatmodjo, 1993).
4. Tindakan
Tindakan dalam penelitian ini adalah pemahaman masyarakat peternak unggas terhadap apa yang harus dilakukan terhadap penyakit Avian Influenza atau suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat peternak unggas sehubungan dengan penularan, pencegahan dan penanggulangan dari penyakit flu burung.
Tindakan diukur dengan skala Guttman, dengan menggunakan dua kategori yaitu kategori positif dan negatif agar perbedaan antar individu itu lebih jelas (kasar). Dimana jawaban yang tepat diberi skor 1 dan salah diberi skor 0.
Kriteria Obyektif :
Positif : Jika skor yang diperoleh responden ≥ 50% dari total skor tertinggi.
Negatif : Jika skor yang diperoleh responden < 50% dari total skor tertinggi. (Notoatmodjo, 1993).

4.5. Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu untuk memberikan penjelasan tentang gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat peternak unggas terhadap penyakit Avian Influenza.



V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan Bata Laiworu, Kabupaten Mojokerto dengan periode pengumpulan data mulai tanggal 09 april 2011 sampai dengan 04 juli 2011. Jumlah sample peternak ayam adalah 562 orang dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi.
Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel frekuensi, grafik, dan narasi sebagai berikut.
5.1. 1. Karakteristik Peternak
Karakteristik peternak yang berhubungan dengan penelitian ini meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan status perkawinan.
Karakteristik peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokertoa dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Jenis Kelamin
Peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokerto hampir seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, karena pekerjaan menjadi peternak ini membutuhkan tenaga yang cukup yang disebabkan oleh beban kerja dan banyaknya pekerjaan.
Untuk lebih jelasnya distribusi peternak ayam berdasarkan jenis kelamin dapat di lihat pada tabel 1:



Tabel 1. Distribusi Peternak Ayam Menurut Jenis Kelamin Di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten MunaTahun 2010
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 110 99,1
Perempuan 1 0,9
Jumlah 111 100

SumbSSumber : Data primer, 2010

Tabel 1 menunjukan bahwa jumlah peternak ayam laki-laki jauh lebih banyak dari jumlah peternak ayam perempuan, peternak ayam berjenis kelamin laki-laki sebanyak 99,1% sedangkan peternak ayam berjenis kelamin perempuan hanya 0,9%, karena laki-laki sebagai kepala keluarga (bertanggung jawab terhadap perekonomian keluarga) dan beban kerja sebagai peternak ayam juga sangat berat kerjanya.
b. Umur
Umur peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna cukup bervariasi yaitu yang paling muda adalah berumur 14 tahun dan yang paling tua adalah berumur 44 tahun. Untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel 2.

Tabel 2.
Distribusi Peternak Ayam Menurut Umur Di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten MunaTahun 2010

Umur (Tahun) Jumlah Persentase
10-14 1 0,9
15-19 20 18,0
20-24 46 41,4
25-29 14 12,6
30-34 14 12,6
35-39 11 9,9
40-44 5 4,5
Jumlah 111 100









Berdasarkan tabel 2 umur peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna terbanyak adalah umur 20-24 tahun yaitu 41,4% sedangkan yang paling sedikit jumlahnya adalah yang berumur 14 tahun yang berjumlah 0,9%, dengan demikian peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna termasuk usia produktif.

c. Pendidikan

Pendidikan peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna terdiri dari berbagai jenjang pendidikan, akan tetapi ada juga beberapa peternak ayam yang tidak bersekolah. Adapun distribusi peternak ayam menurut pendidikan dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Peternak Ayam Menurut Pendidikan Terakhir Di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna Tahun 2010
Pendidikan Jumlah Presentase
Tidak Sekolah 35 31,5
SD 15 13,5
SLTP 18 16,2
SLTA 35 31,5
Diploma/Sarjana 8 7,2
Jumlah 111 100




Sumber : Data Primer 2010

Tabel 3 menunjukan bahwa tingkat pendidikan peternak ayam yang menempuh pendidikan formal yaitu 68,5% sedangkan 31,5% tidak menempuh pendidikan formal. Dari 68,5% yang menempuh pendidikan formal. Pendidikan peternak sebagian besar tamat SLTA 31,5% sedangkan Diploma/Sarjana 8%. Dengan demikian pendidikan peternak ayam cukup tinggi.

d. Status Perkawinan
Status perkawinan peternak ayam di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna cukup banyak yang belum menikah dengan yang sudah menikah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4

Tabel 4. Distribusi Peternak Ayam Menurut Status Perkawinan Di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten MunaTahun 2010

Status Perkawinan Jumlah Presentase
Belum Kawin 75 67,6
Sudah Kawin 36 32,4
Jumlah 111 100





Sumber : Data Primer 2010


Berdasarkan tabel 4 dapat disimpulkan bahwa peternak ayam yang belum kawin jumlahnya lebih banyak dari pada peternak ayam yang sudah kawin, dimana responden yang belum kawin sebanyak 67,6% sedangkan yang sudah kawin sebanyak 32,4%.

5.1.2. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Peternak Ayam Terhadap Penyakit Avian Influenza.

a. Pengetahuan
Peternak ayam sebagai pelaku orang yang berhubungan langsung dengan unggas, sangat berisiko terhadap Avian Influenza perlu dibekali pengetahuan tentang penyakit Avian Influenza. Dengan bekal pengetahuan yang cukup, maka diharapkan para peternak ayam dapat melakukan upaya-upaya pencegahan secara tepat. Pengetahuan peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna tentang pengertian, pencegahan (ayam dan manusia) dan penanggulangan sudah cukup. Sedangkan pengetahuan peternak tentang gejala (ayam dan manusia), penularan, populasi beresiko masih kurang.
Tabel 5. Distribusi Peternak Ayam Menurut Pengetahuan Tentang Penyakit Avian Influenza Di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna Tahun 2010

No Pengetahuan Cukup Kurang
n % n %
1
2
3
4
5
6
7
8 Pengertian
Gejala pada ayam
Gejala pada manusia
Penularan
Populasi brisiko
Pencegahan pada ayam
Pencegahan pada manusia
Penanggulangan 100
52
51
48
61
75
82
90 90,10
46,85
45,95
43,24
54,96
67,56
73,87
81,08 11
59
60
63
50
36
29
21 9,90
53,15
54,05
56,76
45,04
32,44
26,13
18,92

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 5 menunjukan bahwa pengetahuan peternak ayam tentang pengertian penyakit Avian Influenza sudah cukup, dimana pengetahuan tentang pengertian Avian Influenza pada manusia yaitu 90,10%, pencegahan pada ayam peternak ayam 67,56%, pencegahan pada manusia 73,87%, penanggulangannya 81,08%. Sedangkan pengetahuan tentang gejala pada manusia 45,95%, pengetahuan tentang penularan yaitu 43,24% dan pengetahuan tentang populasi beresiko yaitu 54,96%.

b. Sikap
Sikap merupakan respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu simulasi atau obyek. Pada dasarnya manifestasi sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi hanya dapat menafsirkan terlebih dahulu dalam bentuk perilaku tertutup. Sikap peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Mojokerto yaitu meliputi sikap terhadap penularan, pencegahan dan penanggulangan terhadap penyakit Avian Influenza. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa sikap peternak ayam terhadap penularan, pencegahan dan penanggulangan penyakit Avian Influenza masih kurang, dimana peternak ayam bersikap negatif.
Uraian tentang sikap peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2 :

Gambar 3. Distribusi Peternak Ayam Menurut Sikap Terhadap Penyakit Avian Influenza di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna Tahun 2010




Gambar 2 menunjukan bahwa sikap peternak ayam dalam kaitannya dengan penularan, pencegahan dan penanggulangan penyakit Avian Influenza masih bersikap negatif yaitu sikap yang negatif terhadap penularan adalah 78,38%, pencegahan 87,38% dan penanggulangan adalah 83,78%. Sedangkan peternak ayam yang bersikap positif terhadap penularan penyakit Avian Influenza adalah 21,62%, pencegahan 12,62% dan penanggulangan 16,22%.
c. Tindakan
Secara umum tindakan merupakan respon atau reaksi individu terhadap stimulus baik yang berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya.
Tindakan peternak ayam dalam penelitian ini adalah tindakan terhadap upaya-upaya pencegahan penyakit Avian Influenza. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peternak ayam di kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna bersifat positif lebih terhadap upaya pencegahan penyakit Avian Influenza.
Tindakan peternak ayam terhadap pencegahan upaya penyakit Avian Influenza untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2, menunjukan bahwa peternak ayam dengan tindakan positif dalam kaitannya dengan upaya pencegahan penyakit Avian Influenza adalah 72,07% sedangkan peternak ayam tindakan negatif adalah 27,93%.
Gambar 4. Distribusi Peternak Ayam Mernurut Tindakan Terhadap Penyakit Avian Influenza Di Kecamatan Bata Laiworu Kabupaten Muna Tahun 2010




5.2. Pembahasan
5.2.1. Pengetahuan Tentang Penyakit Avian Influenza
Gejala suatu penyakit merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui, karena dengan mengetahui gejala suatu penyakit maka upaya-upaya pencegahan dapat dilakukan lebih dini sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih besar. Penyakit Avian Influenza lebih banyak menyerang ternak unggas, diterapkan peternak ayam harus mengenal gejala penyakit Avian Influenza secara benar sehingga apabila terdapat gejala-gejala yang mengindikasikan adanya penyakit Avian Influenza maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan secara cepat dan tepat.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan para peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza sudah cukup baik, terutama mengenai pengertian, populasi berisiko, pencegahan pada ayam, pencegahan pada manusia serta cara penanggulangan. Adapun untuk mendeteksi gejala pada ayam dan gejala pada manusia masih kurang diketahui hal ini disebabkan gejala penyakit Avian Influenza pada ayam dengan gejala penyakit ayam yang lain hampir sama.
Kurangnya pengetahuan peternak ayam tentang gejala penyakit Avian Influenza pada ayam disebabkan fatalitas penyakit Avian Influenza sangat tinggi. Selain itu juga disebabkan karena terdapat peternak ayam yang ayam peliharaannya belum pernah terinfeksi Avian Influenza sehingga belum pernah melihat ayam yang terkena penyakit Avian Influenza. Hal ini menyebabkan mereka masih belum terlalu tahu gejala penyakit Avian Influenza pada unggas.
Pengetahuan peternak ayam terhadap gejala penyakit Avian Influenza pada manusia masih kurang yaitu 54,05%, salah satu penyebabnya adalah informasi yang mereka dapatkan selama ini baik dari televisi, media cetak maupun sosialisasi dari instansi terkait lebih kemasalah gejala penyakit Avian Influenza pada ayam.
Pengetahuan peternak ayam tentang upaya pencegahan terhadap penyakit Avian Influenza, secara umum sudah cukup. Adapun tindakan pencegahan yang diketahui oleh peternak ayam adalah tindakan pencegahan pada umumnya juga dilakukan pada penyakit lain yaitu tidak menyentuh sumber penyakit dan tindakan-tindakan yang sudah menjadi kebiasaan mereka yakni membersihkan diri setiap selesai bekerja dan memakai alat pelindung diri, walaupun alat pelindung diri yang mereka gunakan belum memenuhi syarat kesehatan sehingga mereka malas untuk memakai alat pelindung diri tersebut pada saat beraktivitas, dimana mereka beranggapan bahwa apabila memakai alat pelindung diri tersebut membuat perasaan mereka tidak nyaman. Alat pelindung diri yang mereka gunakan juga hanya sebatas kain biasa yang diikatkan dileher dan menutup hidung, ini tidak digunakan karena peternak menganggap pemakaian masker akan menyulitkan mereka untuk bernapas. Alat pelindung diri lainnya seperti masker, sepatu, baju kerja. Olehnya itu mereka merasa tidak nyaman untuk memakainya. Selain hal tersebut, faktor lain yang menyebabkan mereka tidak memakainya karena tidak tersedianya alat pelindung diri tersebut.
Secara umum pengetahuan responden sudah cukup, pengetahuan yang cukup ini juga didukung oleh adanya keaktifan mereka mencari informasi tentang penyakit Avian Influenza seperti kebiasaan mereka menonton televisi dan adanya tukar pendapat diantara mereka (informasi dari orang-orang) juga disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan untuk mengingat kembali.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, unsur dasar pengetahuan terhadap tindakan seseorang adalah pengetahuan atau pengertian dan pemahaman tentang apa yang akan dilakukannya, keyakinan dan kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukan, serta dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakannya.
Tingkat pengetahuan memang tidak selalu berkorelasi dengan perilaku sehat, namun demikian mengetahui apa itu penyakit Avian Influenza merupakan langkah pertama yang perlu diketahui setiap individu terutama orang-orang dengan resiko tinggi atau populasi berisiko.
Pengetahuan peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza dapat mempengaruhi sikap, dimana dalam penelitian ini peternak ayam memiliki pengetahuan cukup sebagian besar bersikap positif, juga dapat dilihat bahwa peternak ayam memiliki pengetahuan cukup ada yang bersifat negatif.
Pengetahuan individu juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan akses informasi. Hal ini sesuai hasil penelitian di Indonesia seperti penelitian yang dilakukan oleh Adiatma (2004) tentang Studi Lingkungan Penyebab Terjadinya Penyakit Avian Influenza di Kabupaten Bogor Jawa Barat menunjukan bahwa pengetahuan masyrakat sudah cukup tinggi yaitu 70%, hasil ini didukung oleh tingkat pendidikan masyarakat mencapai 84,3% berpendidikan formal dan akses informasi yang cukup memadai yaitu 65,7% memiliki televisi dan 45,7% mempunyai radio. Jadi pendidikan dan akses informasi yang memadai juga sangat mempengaruhi pengetahuan responden terhadap penyakit Avian Influenza.

5.2.2. Sikap Terhadap Penyakit Avian Influenza
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada umumnya peternak ayam bersikap negatif terhadap penyakit Avian Influenza, yakni meliputi sikap terhadap penularan, upaya pencegahan dan penanggulangan. Dimana sikap terhadap penularan adalah 21,62% yang bersikap positif dan 78,38% yang bersikap negatif, sikap terhadap pencegahan adalah 12,62% yang bersikap positif dan 87,38% yang bersifat negatif, dan sikap terhadap penanggulangan adalah 16,22% yang bersifat positif dan 83,78% yang bersifat negatif.
Berdasarkan hasil penelitian, sikap negatif terhadap penyakit Avian Influenza disebabkan oleh sikap negatif dari peternak ayam seperti tidak memakai alat pelindung diri karena mereka merasa tidak nyaman dalam beraktivitas, tidak menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan kerja dan ketidak setujuan mereka terhadap pemusnahan ayam yang sehat yang didalam kandang tersebut terdapat ayam yang terkena penyakit Avian Influenza karena hal tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak ayam itu sendiri serta kurangnya pemahaman peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza.
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus atau obyek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain. Sikap yang sudah positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, yaitu sikap terwujud dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, mengacu pada pengalaman orang lain dan pada banyak atau tidaknya pengalaman seseorang (Notoadmodjo,2003).
Terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan, misalnya faktor dukungan dari pihak keluarga, teman dekat ataupun masyarakat. Proses perubahan perilaku atau penerimaan ide baru adalah hasil dari suatu proses yang kompleks, yang biasanya memerlukan waktu yang cukup lama.

5.2.3. Tindakan Terhadap Penyakit Avian Influenza
Pengetahuan yang cukup pada seseorang tentu saja diharapkan dapat melakukan tindakan yang positif, akan tetapi bisa saja seseorang mempunyai pengetahuan yang cukup dapat bertindak negatif, begitu pula seorang yang mempunyai pengetahuan yang kurang belum tentu dia bertindak negatif.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tindakan peternak ayam dalam kaitannya dengan upaya pencegahan penyakit Avian Influenza sudah positif. Upaya pencegahan yang biasa dilakukan peternak ayam adalah pemberian vaksinasi pada ayam, sedangkan upaya pencegahan yang jarang dilakukan adalah upaya membersihkan sanitasi kandang dengan menggunakan desinfektan atau cairan sabun. Upaya membersihkan kotoran ayam/ sanitasi kandang, peternak ayam hanya membersihkan kotoran ayam jika sudah bertumpuk banyak untuk kemudian dijual yang digunakan sebagai pupuk kompos. Biasanya mereka membersihkannya 1 minggu sekali. Selanjutnya peternak ayam malas membersihkan kandang ayam karena mereka beranggapan bahwa kandang ayam tidak perlu dibersihkan karena tidak berpengaruh terhadap jumlah telur, sehingga mereka cenderung tidak peduli dengan kebersihan kandang.
Dalam penelitian ini responden merupakan peternak ayam dan pada kenyataan yang ada bahwa pekerjaan utama para responden yaitu beternak dan ini merupakan mata pencaharian mereka. Jadi beternak ayam bukan merupakan kerja sampingan para responden, tetapi salah satu mata pencaharian mereka.
Faktor yang memegang peranan penting dalam pembentukan tindakan dapat dibedakan menjadi dua yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern berupa kecerdasan, persepsi, motivasi, minat, emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar. Faktor ekstern meliputi obyek, orang, kelompok dan hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Kedua Faktor tersebut akan dapat terpadu menjadi perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabilah perilaku yang terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya dan dapat diterima oleh individu yang bersangkutan.





VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan peternak ayam mengenai penyakit Avian Influenza dikategorikan cukup.
2. Sikap peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza dikategorikan bersifat negatif karena kurangnya pemahaman peternak ayam terhadap penyakit Avian Influenza.
3. Tindakan peternak ayam dalam kaitannya dengan upaya pencegahan dikategorikan bertindak positif.

6.2. Saran
1. Bagi peternak agar mempertahankan dan meningkatkan lagi pemahaman mengenai pencegahan dan penanggulangan bahaya penyakit Avian Influenza.
2. Bagi para peternak diharapkan untuk meningkatkan perilakunya tentang hal-hal yang bisa menyebabkan penyakit Avian Influenza, agar penyakit Avian Influenza dapat dicegah semenjak dini.
3. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya mengenai penyakit Avian Influenza, baik perilaku masyarakat ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan penyakit Avian Influenza seperti membandingkan antara daerah yang tertular dengan yang tidak tertular Avian Influenza.
DAFTAR PUSTAKA


Adimidjaja. 2005 Flu Burung. www.depkes.go.id September 2005. Diakses pada tanggal 27 Maret 2011.

Aditama, Tjandra Yoga, Flu Burung, 2004 Gejala, Penularan dan Pencegahannya. www.depkes.go.id 2004. Di akses pada tanggal 3 April 2011

Anggadha, Ary, Indonesia Tempati Posisi Ke Tiga Kasus Flu Burung. Jakarta 1. Detik news. com. Maret 2007. Di akses pada tanggal 27 Maret 3 April 2011

Anonim,2004. Pedoman Pencegahan, Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular Influenza Pada Unggas (Avian Influenza). Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan. Departemen Pertanian Republik Indonesia.

------------, Perkembangan Flu Burung di Dunia. www. kompas. com. 2005. Di akses pada 3 April 2011

---------, 2005a, Ancaman Flu Burung Tetap Besar. www. kompas. com. Di akses pada tanggal 27 Maret 2011.

---------, 2005b, Waspada Flu Burung. www. kompas. com.. Di akses pada tanggal 27 Maret 2011.

---------, 2005c, Flu Burung Mungkin Dari Tangerang. www. kompas. com. Di akses pada tanggal 27 Maret 2011.

---------, 2006a, Gejala dan Cara Pencegahan Flu Burung (Avian Influenza). Dinas Pertanian Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara

---------, 2006b, Tanya Jawab Seputar Penyakit Flu Burung. www. kompas. com. Di akses pada tanggal 3 April 2011

---------, 2006c, Gejala dan Cara Pencegahan Flu Burung (Avian Influenza). Dinas Peternakan Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

---------, 2006d, Flu Burung Mengancam Dunia. www. Depkes. com. 2005. Di akses pada tanggal 3 April 2011

---------, 2007. Waspadai Gejala dan Penyakit Flu Burung. www.depkes.go.id. Diakses pada tanggal 27 Maret 2011.

---------2009a, Ancaman dan Pencegahan Flu Burung. www.google.com Diakses pada tanggal 27 Maret 2011

---------, 2009b. Indonesia Tertinggi Wabah Flu Burung. www. google.com Diakes pada tanggal 27 Maret 2011

Notoatmodjo. 1993. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

---------------. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta. Rineka Cipta.

---------------. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

Nevi, Arvian 2007. Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung Melalui Upaya Kesehatan Kerja. www. Depkes. Com. Di akses pada tanggal 27 Maret 2011


Rahardjo, 2004. Avian Influenza, Pencegahan, Pengendalian, Dalam Pemberantasannya. Penerbit Gita Pustaka. Jakarta

Siegel.M. 2006. Flu Burung : Serangan Wabah Ganas Dan Perlindungan Terhadapnya. Penerbit Kaifa. Bandung

Singarimbun, Sofian Effendi, 1997, Metode Penelitian Survai, LP3ES.

Soejoedono, Retno. 2005. Flu Burung. Jakarta. Penebar Swadaya. Bogor

Soedjodono, RD dan Ekowati. H, 2006. Flu Burung : Virus Flu Burung Dari Unggas Terbukti Dapat Menular Ke Manusia. Penebar Swadaya. Bogor

Suyati, 2006. Ancaman Flu Burung Semakin Merajalela. www.kompas.com. Diakses pada tanggal 27 Maret 2011.

Yonet, 2007. Flu Burung Berdampak Buruk Bagi Peternak. www. Kompas.com. Diakses pada tanggal 3 April 2011

Yono. Huripraja. 2007 Berita Flu Burung Merugikan Kita. www. Kompas.com. Diakses pada tanggal 3 April 2011.

Zainuddin, Muhamad. 1998. Metodologi Penelitian. Universitas Airlangga. Surabaya









Lampiran 1


KUESIONER PENELITIAN
Studi Perilaku masyarakat terhadap penyakit Avian Influenza di Kecamatan Bata Laiworu Kebupaten Muna.

Informasi Umum:
Wawancara : I/
Tanggal wawancara : ……./……/2010
Lokasi wawancara :

A. Identitas Responden
1. Nama responden :
2. Umur :......... tahun
3. Jenis kelamin :
4. Status perkawinan :
5. Pendidikan :
1. Tidak sekolah
2. SD
3. SLTP
4. SLTA
5. PT

II. Pengetahuan tentang penyakit Avian Influenza

Pengertian

1. Menurut Anda, penyakit flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh apa?
1. Virus 2. Bakteri

Gejala Pada Ayam

2. Apakah anda tahu gejala flu burung pada ayam?
1. Ya 2. Tidak
3. Apakah ayam terkena flu burung mengalami kematian yang mendadak?
1. Ya 2. Tidak
4. Apakah ayam terkena flu burung jenggernya nampak berwarna biru atau kepalanya bengkak?
1. Ya 2. Tidak
5. Apakah ayam yang terkena flu burung terjadi penurunan produksi telur?
1. Ya 2. Tidak
6. Apakah ayam yang terkena flu burung sering batuk atau bersin?
1. Ya 2. Tidak
7. Apakah ayam yang terkena flu burung mengalami penurunan nafsu makan?
1. Ya 2. Tidak
8. Apakah ayam yang terkena flu burung mengeluarkan lendir di hidung atau mata ?
1. Ya 2. Tidak

Gejala Pada Manusia

9. Apakah anda tahu gejala flu burung pada manusia?
1. Ya 2. Tidak
10. Apakah orang yang terkena flu burung menderita panas tinggi?
1. Ya 2. Tidak
11. Apakah orang yang terkena flu burung merasa lemas?
1. Ya 2. Tidak
12.Apakah orang yang terkena flu burun merasa sakit kepala?
1. Ya 2. Tidak
13. Apakah orang yang terkena flu burung muntah-muntah?
1. Ya 2. Tidak
14. Apakah orang yang terkena flu burung merasa sakit tenggorokan?
1. Ya 2. Tidak
15.Apakah orang yang terkena flu burung merasa nyeri sendi atau otot?
1. Ya 2. Tidak

Penularan

16. Apakah kotoran ayam itu dapat menularkan penyakit flu burung?
1. Ya 2. Tidak
17. Apakah penyakit flu burung bisa menular dari unggas ke unggas?
1. Ya 2. Tidak
18. Apakah penyakit flu burung bisa menular dari unggas ke manusia?
1. Ya 2. Tidak
19. Apakah penyakit flu burung bisa menular dari kandang (dari satu kandang ke kandang yang lainnya)?
1. Ya 2. Tidak
20. Apakah menyentuh secara langsung ayam yang terkena flu burung bisa menyebabkan penularan penyakit flu burung?
1. Ya 2. Tidak

Kelompok Berisiko

21. Apakah peternak ayam berisiko terkena penyakit flu burung?
1. Ya 2. Tidak
22. Apakah sopir pengangkut unggas (ayam) berisiko terkena penyakit flu burung?
1. Ya 2. Tidak

23. Apakah orang yang bertempat tinggal di sekitar lokasi peternakan ayam berisiko terkena flu burung ?
1. Ya 2. Tidak

Pencegahan Pada Unggas

24 Apakah kendaraan pengangkut unggas dari daerah yang tertular penyakit flu burung ke daerah yang bebas flu burung harsu dilarang?
1. Ya 2. Tidak
25. Apakah alat-alat peternakan harus dibersihkan dengan cairan sabun (densifektan)?
1. Ya 2. Tidak
26. Apakah ayam yang terkena penyakit flu burung harus dimusnahkan ?
1. Ya 2. Tidak

Pencgahan Pada Manusia

27. Apakah peternak ayam harus mencuci tangan dengan sabun sehabis bekerja?
1. Ya 2. Tidak
28. Apakah peternak ayam harus mandi setiap selesai bekerja?
1. Ya 2. Tidak
29. Apakah peternak Harus menggunakan alat pelindung diri pada saat bekerja?
1. Ya 2. Tidak
30. Apakah kotoran ayam harus dibersihkan setiap hari?
1. Ya 2. Tidak
31. Apakah ayam yang terkena penyakit flu burung harus dimusnahkan?
1. Ya 2. Tidak
32. Apakah ayam sehat harus dimusnahkan juga bila berada pada kandang yang sama dengan ayam yang terkena penyakit flu burung ?
1. Ya 2. Tidak
33. Apakah ayam yang sehat harus segera dijual apabila ditemukan beberapa ayam terkena penyakit flu burung pada lokasi peternakan yang sama ?
1. Ya 2. Tidak

II. Sikap Terhadap Penyakit Avian Influenza

a. Flu burung bisa menular dari unggas ke unggas
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
b. Flu burung tidak bisa menular dari unggas ke unggas
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
c. Flu burung bisa menular dari satu kandang ayam ke kandang ayam lainnya
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju

d. Kotoran ayam tidak menyebabkan penularan penyakit flu burung
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju

Pencegahan

e. Peternak ayam tidak perlu menggunakan alat pelindung diri pada saat bekerja
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
f. Kendaraan pengangkut unggas yang berasal dari daerah yang tertular flu burung harus dilarang masuk ke daerah yang bebas/terancam flu burung
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
g. Peralatan peternakan tidak perlu dibershkan dengan air sabun (densifektan)?
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
h. Peternak ayam tidak perlu mencuci tangan sehabis bekerja di peternakan
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
i. Kotoran ayam tidak perlu dibersihkan setiap hari
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
j. Vaksinasi hanya diberikan apabila ayam sakit
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
k. Ayam yang terkena penyakit flu burung tidak perlu dimusnahkan
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju

Penanggulangan

l. Apabila kita hanya sakit flu biasa tidak perlu berobat ke puskesmas, cukup beli obat yang di warung-warung saja
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
m. Ayam yang terkena penyakit flu burung harus dimusnahkan dengan cara dibakar
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
n. Ayam yang sehat tidak harus dimusnahkan walaupun tinggal satu kandang dengan ayam yang terkena flu burung sebab bisa merugikan peternak ayam
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju
o. Apabila terdapat ayam yang terkena flu burung, maka ayam yang sehat harus segera dijual untuk mengurangi kerugian peternak
1.Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju

III. Tindakan Terhadap Penyakit Avian Influenza

1. Ayam diberikan vaksinasi
1.Ya 2. Tidak

2. Membersihkan kotoran unggas setiap hari
1.Ya 2. Tidak
3. Membatasi orang yang ingin masuk ke lokasi peternakan
1.Ya 2. Tidak
4. Membatasi kendaraan pengangkut unggas yang keluar masuk lokasi peternakan
1.Ya 2. Tidak
5. Membersihkan peralatan peternakan dengan densifektan (sabun)
1.Ya 2. Tidak
6. Mandi sehabis kerja
1.Ya 2. Tidak
7. Jika sakit flu, sakit kepala, batuk, panas hanya membeli obat di warung-warung saja
1.Ya 2. Tidak
8. Pakaian kerja ditinggalkan di tempat kerja
1.Ya 2. Tidak
9. Mencuci tangan sehabis bekerja dengan densifektan (sabun)
1.Ya 2. Tidak
10. Menjaga kebersihan lingkungan peternakan
1.Ya 2. Tidak
11. Menggunakan masker saat bekerja
1.Ya 2. Tidak
12. Menggunakan sepatu pada saat bekerja
1.Ya 2. Tidak
13. Menggunakan Kaos tangan pada saat bekerja
1.Ya 2. Tidak
14. Peralatan peternakan dalam kondisi bersih
1.Ya 2. Tidak
15. Menggunakan baju kerja pada saat bekerja
1.Ya 2. Tidak
16. Menjaga kebersihan kandang ayam
1.Ya 2. Tidak











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar